Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
1

Shalat Dimana Saja Kapan Saja

Sang Pencari Kebenaran
Dalam keadaan apapun, baik dalam keadaan senang maupun susah kita sebagai umat muslim diwajibkan untuk terus mengingat Allah, Tuhan Pencipta Alam. Dimanapun tempat kita berpijak, disitulah tempat umat muslim diperbolehkan shalat (doa). Inilah Foto-foto SHALAT umat MUSLIM...


0

Tokoh-Tokoh Filsafat Islam

Sang Pencari Kebenaran
Pemikiran  pemikiran  filsafat  Yunani  yang  masuk  dalam  kancah  pemikiran Islam lewat terjemahan, diakui oleh banyak kalangan telah mendorong perkembangan filsafat islam menjadi makin pesat. Namun demikian seperti dikatakan Oliver Leaman adalah  suatu  kesalahan  besar  jika  menganggap  bahwa  filsafat  Islam  bermula  dari ppenerjemahan  text-text  yunani  tersebut  atau  hanya  nukilan  dari  filsafat Aristoteles (384-322) seperi dituduhkan oleh Renan, atau dari neo-Platonisme seperti dituduhkan Duhem.

Pertama  bahwa  belajar  atau  berguru  tidak  berarti  meniru  atau  membebek semata.  Mesti  dipahami  bahwa  kebudayaan  Islam  menembus  berbagai macam gelombang  dimana  ia  bergumul  dan  berintraksi.  Pergumulan  dan  intraksi  ini melahirkan  pemikiran-pemikiran  baru.  Jika  kebudayaan  Islam  tersebut  terpengaruh oleh kebudayaan Yunani, mengapa tidak terpengaruh oleh peradapan India dan Persia
misalnya?  Artinya  transformasi  dan  peminjaman  beberapa  pemikiran  tidak  harus mengkonsuesikan perbudakan dan penjiplakan.

Kedua, kenyataan  yang  ada  menunjukkan  bahwa  pemikiran  rasional  telah dahulu  mapan  dalam  masyarakat  muslim  sebelum  kedatanga  filsafat  yunani  lewat terjamahan.  Meski  karya-karya  Yunani  telah  mulai  diterjemahkan  pada  kekuasaan Bani Umayyah, tetapi buku-buku filsafatnya yang kemudian melahirkan flosof muslim pertama Al-Kindy  (801-873 M)  baru mulai  digarap  secara  serius pada masa dinasti Abbasiyah.  Pada  masa-masa  ini  system  berpikir  rasional  telah  berkembang  pesat dalam masyarakat intelektual Arab-Islam.

Semua  itu menunjukkan  bahwa  sebelum  dikenal  adanya  logika  dan  filsafat Yunani  telah  ada  model  pemikiran  filosofis  yang  berjalan  baik  dalam  masyarakat Islam yakni dalam  soal  teologis dan kajian hukum. Bahkan, pemikiran  rasional dari teologi dan hukum  inilah yang  telah berjasa menyapkan  landasan bagi diterima dan berkembangnya logika dan filsafat Yunani dalam Islam.

0

Pergumulan Esoterisme-Islam

Sang Pencari Kebenaran
Sebuah agama masa depan bagi manusia "Islam" tampil dalam kado dari  individu-individu para teosof untuk semua manusia. Lain  halnya  para mutakallimin dan ahli fikih yang ketika berhadapan dengan ide dan keyakinan di luar Islam  cenderung menonjolkan  dialog  radikal,  yang  tidak  empati.  Para teosof  dalam menghayati,  merenung,  dan  memikirkan  Islam  yang  dianut, tidak  serta-merta menggusur  habis-habisan  ide  atau  spiritual  Liyan  dan  agama  lokal,  bahkan mereka dengan cantik mengadopsinya dalam upaya mensistematiskan dan mengisi nilai-nilai spiritual yang ada pada lokus Islam. 

Wajar jika pemikiran sufistik mereka dicurigai keontentikannya. Karena sejatinya adalah  hal  yang  mustahil  adanya  sebuah  orisinalitas  dalam  sebuah  konstruksi pemikiran  dan  spiritualitas  mana  pun.  Mensintesakan  semua  pemikiran  dan spiritualitas  yang  dilakukan  kaum  teosof  adalah  sikap  arif  dan  inklusif.  Barangkali sudah merupakan  rahasia  umum  bahwa  referensi  yang  dipakai  kaum  teosof  bukan hanya dari  tradisi Islam (al-Qur`an dan hadits), akan  tetapi dari semua penjuru dunia spiritual dan pemikiran, di samping dari pergolakan spiritual dan keresahan pemikiran yang timbul dari pengalaman panjang dalam mencari kebenaran sejati." 

0

Musik Dalam Perspektif Agama Islam

Sang Pencari Kebenaran
Adanya dampak negatif dari bidang kesenian menyebabkan banyak orang bertanya tanya, khususnya dari kalangan pemuda yang masih memiliki ghirah (cemburu terhadap musuh agama) Islam. Mereka bertanya: bagaimana pandangan Islam terhadap seni budaya? Bolehkah bermain gitar, piano,organ, drum band, seruling, bermain musik blues, klasik, keroncong, musik lembut,musik rock,dan lain-lain?

Bagaimana pula dengan lirik lagu bernada asmara, porno, perjuangan, qashīdah,kritik sosial,dan sejenisnya?  Dalam makalah ini akan dipaparkan pembahasan permasalahan oleh para fuqahā’(ulama).

0

Korelasi Iptek dalam Tasawuf Kontemporer

Sang Pencari Kebenaran
Fenomena  menarik  mengenai  geliat  baru  masyarakat  perkotaan terhadap kajian  tasawuf sebagai spiritual baru  diharapkan tidak terjebak pula pada tataran kesalihan simbolik. Kajian yang  mengurai  bahwa  dalam  konteks  kehidupan  modern,  khazanah  pemikiran  Islam sufistik  atau  tasawuf  selayaknya direkonstruksi dalam  kerangka  untuk menemukan  kembali makna dan alat vital ajaran tasawuf bagi kehidupan manusia modern saat ini.  

Dengan mengkaji  dan mempertanyakan  kembali  tentang  apa  dan  bagaimana  ajaran tasawuf  diharapkan  mampu  menjawab  dan  bisa  memberikan  kontribusi  atas  berbagai persoalan  kehidupan masa  kini  yang  penuh  tantangan  dalam menghadapi  arus modernisasi, globalisasi dan informasi.  

Di  satu  pihak,  arus  modernisasi,  globalisasi  dan  informasi  memberi  banyak kemudahan bagi kehidupan manusia. Di lain pihak, bersamaan dengan munculnya persaingan yang ketat, kerasnya kehidupan, ataupun tawaran yang menggiurkan seringkali menimbulkan kegelisahan batin dan pergolakan jiwa terganggu. 

0

Islam Inklusif Pluralis

Sang Pencari Kebenaran
Usaha pemasaran menyudutkan Islam ketika ini dikaitkan dengan era globalisasi dengan segala dampak bawaannya, termasuk fenomena “plural” yang secara konsekuansial menuntut sikap terbuka, toleran, akomodatif dan inklusif. Dalam situasi sekarang, menurut mereka, sikap tertutup dan eksklusif sudah tidak relevan lagi. Dengan semangat zaman yang sedemikian itulah mereka tampil sebagai kaum pluralis-inklusif.

Keinginan menyenangkan Amerika dalam pembentukan sikap dan pola fikir model (pluralis-inklusif) tersebut tampaknya lebih didorong oleh keinginan untuk menyenangkan kuasa besar dunia yang saat ini sedang menggila memburu mereka yang mereka labelkan sebagai kaum fanatik, fundamentalis, ekstrimis dan teroris Muslim. Seperti yang telah lama kita sadari bahwa dalam situasi sekarang ini memang ada usaha menggubah “Islam” versi Amerika atau “Islam” yang direstui Amerika, yaitu Islam yang hilang keunggulannya, jati dirinya dan dinamika daya juangnya.

Kaum pluralis begitu resah dengan citra Islam yang unik dan berbeda dengan umat lain. Perbedaan mereka dirasakan sebagai pertentangan, konflik dan konfrontasi. Karena itu mereka amat tidak senang dengan hal-hal yang tampak kontras:  baik-buruk, mukmin-kafir, Muslim-non Muslim, dosa-pahala, surga-neraka dan lain sebagainya. Dalam perspektif pluralis-inklusif tidak ada lagi perbedaan-perbedaan seperti itu. Dengan menyamakan semua agama berarti semua agama adalah benar, penganut agama mana pun adalah muslim dan semuanya boleh masuk surga. Yang berbeda hanya jalannya, tetapi yang dituju adalah sama, yaitu Tuhan, dan semuanya (melalui jalan mana pun) akan sampai ke surga. Pluralisme dalam pengertian di atas dikatakan telah menjadi semacam `aqidah. Di kalangan kaum pluralis sendiri memang telah ada yang mengatakan demikian. `Aqidah pluralisinklusif yang secara konsekuensial menghasilkan pula fiqh pluralis (lihat buku Fiqh Lintas Agama) yang dibedakan dari pada `aqidah eksklusif dengan fiqih eksklusifnya pula. Untuk mengesahkan faham pluralisme tersebut para pendukungnya merujuk al- Qur’an dan membuat tafsiran-tafsiran “sekena-kenanya” yang sejalan dengan pola fikir pluralis.

Antara ayat-ayat yang dirujuk termasuklah:
Allah berfirman (yang artinya): “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia.(Al-Baqarah:143).

Umat yang adil dan umat pilihan adalah ‘ummatan wasatha’ (umat pertengahan). Untuk saat ini, terjemahan “umat pertengahan” atau “umat yang adil dan pilihan”. Menjelaskan tentang makna ayat 143 surat al-Baqarah tersebut, dalam Tafsir al-Azhar, Prof. Hamka menyatakan, bahwa kehadiran Nabi Muhammad saw dan umat Islam adalah untuk menjadi jalan tengah bagi ekstrimitas dua komunitas Yahudi dan Kristen; umat Yahudi yang lebih condong kepada urusan dunia semata dan umat Nasrani yang condong kepada kehidupan kerohanian semata, dengan memencilkan diri di biara-biara dan tidak kawin.

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (Al-Hujurat:13)

Tujuan akhir dari konsep pluralisme agama sangat mudah dibaca, yaitu agar umat Islam hancur aqidahnya, sehingga hegemoni kapitalisme yang kafir atas Dunia Islam semakin paripurna dan total. Karena Barat sangat memahami, bahwa Aqidah Islam adalah rahasia atau kunci vitalitas dan kebangkitan umat Islam. Maka kalau tidak segera dihancurkan, umat Islam akan bisa menjadi potensi ancaman serius untuk hegemoni Barat di masa datang. Maka sebelum umat Islam bangkit, Aqidah Islam dalam dada mereka harus dihancurkan dan dimusnahkan, agar umat Islam takluk dan tunduk patuh sepenuh-penuhnya kepada kaum penjajah kafir. Itulah tujuan sebenarnya dari wacana pluralisme agama ini, tidak ada yang lain.

0

Hacking Dalam Perspektif Agama Islam

Sang Pencari Kebenaran
Kemajuan teknologi komputer, teknologi informasi, dan teknologi komunikasi menimbulkan suatu tindak pidana baru yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan tindak pidana konvensional. Penyalahgunaan komputer sebagai salah satu dampak dari ketiga perkembangan tersebut tidak terlepas dari sifatnya yang khas sehingga membawa persoalan baru yang agak rumit untuk dipecahkan, berkenaan dengan masalah penanggulangannya dan tujuan dari penggunaanya.

Sebagaimana lazimnya pembaharuan teknologi, internet selain memberi manfaat juga menimbulkan ekses negatif dengan terbukanya peluang penyalahgunaan teknologi tersebut. Hal itu terjadi pula untuk data dan informasi yang dikerjakan secara elektronik. Dalam jaringan komputer seperti internet, masalah kriminalitas menjadi semakin kompleks karena ruang lingkupnya yang luas.

Internet kerap disampaikan dan dipercaya memiliki khasiat antibiotik untuk mengatasi berbagai problem sosio-kultur masyarakat kita. Tanpa kita sadari, kita terlalu percaya dan terlalu banyak menelan antibiotik tersebut, sehingga tidak menyembuhkan malah menimbulkan efek samping yang celakanya kerap kita percaya sebagai konsekuensi logis yang harus diterima. Hal tersebut bukan isapan jempol, karena menurut hasil riset  perusahaan esekuriti ClearCommerce.com yang berkantor di Texas, Indonesia dinyatakan berada di urutan kedua negara asal pelaku cyberfraud (kejahatan kartu kredit via internet), setelah Ukraina

Ditambahkan pula bahwa sekitar 20 persen dari total  transaksi kartu kredit dari Indonesia di Internet adalah fraud. Riset tersebut mensurvei 1137 toko online, 6 juta transaksi, 40 ribu customer, dimulai pada pertengahan tahun 2000 hingga akhir 2001.

Berikut ini akan disampaikan beberapa dampak tindakan hacking ataupun craking secara nyata dalam perspektif agama Islam khususnya pada sektor teknologi dunia maya. Hal ini bukan untuk dihindari dan disangkal, tetapi untuk direnungkan dan dicari jalan keluarnya.

 
Copyright 2010 Blog Pribadi Abd Umar